PENGARUH PENGGOSOKAN
BENIH DAN MEDIA
TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH
KARET (Hevea Brassiliensis Muell. Arg)
LAPORAN
OLEH :
VICTOR HEVIT TARIGAN / 100301160
AGROEKOTEKNOLOGI
XII
LABORATORIUM BUDIDAYA TANAMAN KELAPA SAWIT DAN KARET
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012
PENGARUH
PENGGOSOKAN BENIH DAN
MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KARET (Hevea Brassiliensis Muell. Arg)
LAPORAN
OLEH :
VICTOR HEVIT TARIGAN / 100301160
AGROEKOTEKNOLOGI
XII
Laporan Sebagai Salah Satu
Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal
Tes di Laboratorium
Budidaya Tanaman Kelapa
Sawit dan Karet Program Studi
Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
LABORATORIUM BUDIDAYA TANAMAN
KELAPA SAWIT DAN KARET
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012
Judul :
Pengaruh Penggosokan Benih Dan Media Tanam Pada Perkecambahan
Benih
Pada Karet (Hevea brassiliensis
Muell. Arg.)
Nama :
Victor Hevit Tarigan
NIM : 100301160
Prodi :
Agroekoteknologi
Diketahui Oleh:
Dosen Penanggung Jawab Dosen
Pembimbing Praktikum
(Ir. Jonatan Ginting, MS) (Ir.
Balonggu Siagian, MS)
NIP. 195902011986011001 NIP. 194901021979031002
Disetujui Oleh :
Asisten Koordinator
(Afriadi Simanjuntak)
NIM : 080301052
|
Diperiksa
Oleh :
Asisten Korektor
(Ebet
Sinulingga)
NIM : 080301063
|
|
ABSTRACT
The purpose of this experiment is to determine the
effect scrubbing Influence of Cultivation Media on Seed Germination and Rubber (Hevea brassiliensis Muel.
Arg). This experiment was conducted in
laboratory experiments land Agronomy Faculty of Agriculture Food Crop
Plantation, North Sumatra University in Medan at an altitude of ± 25 m above
sea level from April to May 2012 using a randomized block design (RBD) with two
factors and three replications. The first factor is no scrub and scrub with a
second factor is the Sand, Sand + topsoil (2:1), topsoil. Results showed
that the scrub and Media Planting Germination significantly affect the growth
of Rubber (Hevea brassiliensis Muel.Arg.).
Keywords: Media, scrub,
Germination
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah
untuk mengetahui pengaruh Pengaruh Penggosokan Benih
dan Media Tanam pada Perkecambahan Karet (Hevea brassiliensis Muel.
Arg.). Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi
Tanaman Pangan Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan
pada ketinggian ± 25 m dpl dari bulan Februari sampai bulan Mei 2012 dengan
menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor perlakuan dan 3
ulangan. Faktor I adalah Penggosokan dengan Tanpa penggosokan dan faktor kedua
adalah Pasir, Pasir + topsoil (2:1), Topsoil. Hasil percobaan menunjukkan bahwa
Penggosokan dan Media Tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan Perkecambahan
Karet (Hevea brassiliensis Muel. Arg.).
Kata Kunci :
Media, Penggosokan, Perkecambahan
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat dan rahmat-Nya penulis
dapat menyelesaikan laporan ini.
Adapun judul
dari laporan ini adalah “Pengaruh Penggosokan Benih dan Media Tanam Pada
Perkecambahan Benih Karet (Hevea
Brassiliensis Muell. Arg)”
sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium
Budidaya Tanaman Kelapa Sawit dan Karet Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Pada
kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS.,
Ir. Jonatan Ginting, MS., Prof. Ir. E. Purba, PhD., Dr.Ir. Chairani Hanum, MP.,
Ir. Toga Simanungkalit, MS., Ir. Jonis, MS., Ir. Charloq ,MP., selaku dosen mata
kuliah serta abang dan kakak asisten yang telah banyak membantu dalam
menyelesaikan laporan ini.
Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan di masa mendatang.
Akhir kata
penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dan semoga
laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan,
Mei 2012
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRACT........................................................................................................ i
ABSTRAK.......................................................................................................... ii
RIWAYAT HIDUP............................................................................................ iii
KATA PENGANTAR....................................................................................... iv
DAFTAR ISI....................................................................................................... v
DAFTAR TABEL.............................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR......................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... viii
PENDAHULUAN
Latar Belakang.......................................................................................... 1
Tujuan Percobaan...................................................................................... 3
Hipotesis Percobaan.................................................................................. 3
Kegunaan
Penulisan.................................................................................. 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani
Tanaman ....................................................................................... 4
Syarat
Tumbuh.......................................................................................... 5
Iklim................................................................................................. 5
Tanah................................................................................................ 6
Media
Tanam............................................................................................ 8
Penggosokan
Benih................................................................................... 9
BAHAN DAN METODE
Tempat
dan Waktu Percobaan.................................................................. 12
Bahan
dan Alat......................................................................................... 12
Metode
Percobaan.................................................................................... 12
Pelaksanaan
Percobaan............................................................................. 14
Persiapan
Media Tanam................................................................... 14
Penggosokan
Benih.......................................................................... 14
Penanaman....................................................................................... 14
Pemeliharaan
Tanaman..................................................................... 14
Penyiraman....................................................................................... 14
Pengamatan
Parameter..................................................................... 14
Persentase
Perkecambahan (%)............................................. 14
Laju
Perkecambahan (Hari)................................................... 15
Tinggi
Plumula (cm).............................................................. 15
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil.......................................................................................................... 16
Pembahasan............................................................................................... 18
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan............................................................................................... 21
Saran......................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman karet (Hevea brassiliensis Muell.
Arg) termasuk famili euphorbiaceae atau tanaman getahan. Dinamakan demikian
karena golongan famili ini jaringan tanaman yag banyak mengandung getah
(lateks) tersebut mengalir keluar apalagi jaringan tanaman terlukai manfaat dan
kegunaan nya. Tanaman ini digolongkan keadaan industri. Tanaman karet berasal
dari lembah amazon. Karet liar masih ditemukan dibagian utama amerika selatan
dari brazil hingga venezuela dan dari kolombia hingga bolivia (
Syamsulbahri,1996).
Indonesia merupakan negara
perkebunan karet terluas di dunia, meskipun tanaman karet sendiri baru
diintroduksi pada tahun 1864. Dalam kurun waktu sekitar 150 tahun sejak
dikembangkan pertama kalinya, luas area perkebunan karet di Indonesia tersebut
84,5% diantaranya merupakan kebun milik rakyat 8,4% milik swasta dan hanya 7,4%
yang merupakan milik negara
(Setiawan dan Andoko, 2005).
Karet
merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya
peningkatan devisa Indonesia. Ekspor karet Indonesia selama 20 tahun terakhir
terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1 juta ton pada tahun 1985 menjadi
1,3 juta ton pada tahun 1995 dan 1,9 juta ton pada tahun 2004. Pendapatan
devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2,25 milyar yang
merupakan 5% dari pendapatan devisa non migas (Anwar, 2001).

Hevea brassiliensis
merupakan jenis pohon karet yang paling berhasil, setelah percobaan
penanaman Hevea brassiliensis berhasil
baik, perkembangan perkebunan asia tenggara sangat pesat dan pada tahun 1910
sejumlah besar dari karet perkebunan dijual dipasar di dunia. Banyak faktor
yang memungkinkan hal ini: tenaga kerja berlimpah, tanah dan iklim yang cocok
dan dibandingkan dengan penawaran karet di luar Amerika Selatan, karet
perkebunan mudah diambil dan dikirim ke pusat industri Eropa dan Amerika
Serikat karena peningkatan permintaan dunia pada abad 20, luas lahan yang
ditanami karet pada daerah ini semakin besar (Spillane, 1989).
Pada tahun 1860 dimulai lah
pengembangan karet didataran asia. Pada tahun tersebut Markham diutus oleh the
royal botanic garden,london pergi ke amerika selatan untuk mengumpulkan
biji-biji karet yang akan dikembangkan di Asia. Selain Markham lembaga tersebut
juga mengutus HA Wickham untuk mengumpulkan biji-biji karet dari brasil.
Biji-biji karet yang dikumpulkan oleh kedua orang tersebut selanjutnya
disemaikan di India dan Sri Lanka (Setiawan dan Andoko, 2005).
Dewasa ini luas area tanaman karet
mencapai 3,04 juta hektar dimana 83,4% (2,54 juta hektar) adalah karet rakyat.
Oleh karena itu selain sebagai sumber devisa karet rakyat juga memiiki arti
social yang sangat penting karena mendukung lebih dari 10 juta jiwa keluarga
petani yang mengusahakan komoditas ini walaupun demikian produktivitas karet
rakyat saat ini masih tergolong rendah karena teknologi pengolahannya
terbelakang. Di pihak lain produktivitas perkebunan besar telah mencapai
1000-1500 kg karet kering perhektar pertahun dengan kualitas produksi yang
lebih baik (Setyamidjaja, 1993).
Karet adalah salah satu komoditas
utama sub sektor perkebunan di Indonesia. Data tahun 2006 menunjukkan luas
areal tanaman karet di Indonesia adalah seluas 3,31 juta hektar dan menempati
areal perkebunan terluar ketiga setelah kelapa sawit (pertama) dengan luas 6,07
ha dan kelapa (kedua) dengan luas 3,82 jt ha. Bila dibandingkan produktivitas
areal tanaman karet antar provinsi terdapat kecendrungan produktivitas tinggi
berasal dari provinsi-provinsi sulawesi dan jawa ( Sopian, 2012)
Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah
untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan
benih karet (Hevea brassiliensis Muell.
Arg).
Hipotesis Percobaan
Ada pengaruh penggosokan benih dan
media tanam terhadap perkecambahan benih karet (Hevea brassiliensis Muell.
Arg) serta adanya interaksi keduanya
terhadap perkecambahan benih karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg).
Kegunaan Penulisan
- Sebagai
salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Budidaya
Tanaman Kelapa Sawit dan Karet, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara,
Medan
- Sebagai
sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINAJUAN
PUSTAKA
Botani Tanaman
Adapun
sistematika tanaman karet (Hevea
brassiliensis Muell. Arg) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Euporbiales
Famili : Euphobiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brassiliensis Muell.
Arg
(Sianturi,
2001).
Akar pada tanaman karet termasuk
akar tunggang depan menghujam tanaman sampai 1-2 meter dan akarnya lateralnya
dapat menyebar sampai 10 meter
(Sianturi, 2001).
Tanaman merupakan pohon yang tumbuh
tinggi dan berbatang besar, batang tanaman ini biasanya tumbuh lurus dan memiliki
percabangan yang tinggi diatas. Tinggi pohon dewasa bisa mencapai 12-25 meter
(Syamsulbahri, 1996).
Daun karet berwarna karet hijau. Apabila akan rontok
berubah menjadi berwarna kuning atau merah. Biasanya tanaman karet mempunyai
jadwal perontokan daun pada setiap musim kemarau. Di musim rontok ini kebun
karet menjadi indah karena daun-daun karet berubah warna dan berguguran (Tim Penulis, 2011).
Bunga karet terdiri dari bunga
jantan dan bunga betina yang terdapat dalam satu paying tambahan yang jarang.
Pangkal tenda bunga berbentuk lontar. Panjangnya antara 4-8 cm. Ukuran bunga
betina lebih besar sedikit dari bunga jantan. Bunga jantan memiliki 20 benang
sari yang tersusun dari tiang kepala sari, terdapat 2 karangan tersusun dari pada
yang lain. Paling ujung adalah bakal buah yang tinggi yang tumbuh secara
sempurna (Syamsulbahri, 1996).
Buah tanaman beruang tiga dan jarang
beruang empat atau enam, berdiameter buah 3-5 cm dan terpisah 3,4 dan 6 inci,
berkatup dua, perikarp berbatok, endocarp berpayung (Sianturi, 2001).
Biji karet terdapat dalam setiap
ruang buah jadi, jumlah biji biasanya tiga, kadang enam sesuai dengan jumlah
ruang. Ukuran biji besar dengan kulit keras. Warnanya cokelat kehitaman dengan
bercak-bercak berpola yang khas. Biji-biji yang terlontar, kadang-kadang sampai
jauh, akan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung (Tim Penulis, 2011).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman karet adalah tanaman daerah
tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah zona pada 150 LU-
150 LS. Bila ditanam di luar zona tersebut tumbuhnya agak lambat
sehingga untuk memulai produksinyapun lebih lambat (Sadjad, 1995).
Tanaman karet adalah tanaman daerah
tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah zone antara 15º LS dan 15º
LU. Bila ditanam di luar zone tersebut pertumbuhan nya agak lambat sehingga
memulai produksinya pun lebih lambat. Curah hujan tahunan yang cocok untuk
pertumbuhan tanaman karet tidak kurang 2.000 mm. Optimal antara 2500-4000
mm/tahun, yang terbagi dalam 100-150 hari hujan. Tanaman karet tumbuh optimal
didataran rendah yakni pada ketinggian sampai 200 meter diatas permukaan laut (
Setyamidjaja, 1993).
Karet
termasuk tanaman dataran rendah yaitu bisa tumbuh baik di dataran dengan
ketinggia 0-400 m dpl. Diketinggian tersebut suhu harian 25-30 ºC. Jika
kondisi-kondisi tertentu tersebut tidak terpenuhi tanaman karet bisa saja tetap
tumbuh tetapi pertumbuhannya lambat. Tanaman bisa menjadi kerdil dan kurus
dengan percabangan banyak lebih buruk lagi produksi lateks nya rendah sehingga
secara ekonomis tidak menguntungkan ( Setiawan dan Andoko, 2005).
Untuk pertumbuhan baik, karet memerlukan suhu antara
25-350C dengan suhu optimal rata-rata 280C. Makin tinggi
letak tempat, pertumbuhannya akan lambat dan hasilnya akan rendah. Ketinggian
lebih dari 600 meter dari permukaan laut tidak cocok lagi untuk tanaman karet.
Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang pada
musim tertentu dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman karet yang berasal
dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang (Setyamidjaja, 1993).
Karet akan baik pertumbuhannya jika ditanam didaerah
yang memiliki ketinggian antara 0-400 meter diatas permukaan laut dengan
kemiringan maksimum 450. Tanaman karet menghendaki daerah dengan
curah hujan antara 1500-4000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun yang terbaik
antara 2500-4000 mm/tahun dengan 100-150 hari hujan (Tim Penulis, 2011).
Tanah
Karet
akan baik pertumbuhannya jika ditanam di daerah yang memiliki ketinggian antara
0-400 m diatas permukaan laut dengan kemiringan maksimum 45º. Jika ditanam
didaerah yang memiliki ketinggia diatas 400 m dari pemukaan laut, maka
pertumbuhannya menjadi lambat. Apalagi jika tumbuh diketinggian 600 m dari
permukaan laut dan tanah nya menjadi mulai kritis hasil yang diperoleh sangat
rendah dan mudah terjangkit penyakit meskipun dirawat dengan baik ( Sugito,
1999).
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah
baik pada tanah-tanah vulkanis muda maupun vulkanis tua, alluvial bahkan
gambut. Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet adalah sebagai
berikut:
-
Solum dalam sampai 100 cm atau lebih,
tidajk terdapat batu-batuan
-
Aerasi dan drainase baik
-
Remah, porous da dapat menahan air,
permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm
-
Tekstur terdiri atas 35% liat dan 30%
pasir
-
Tidak bergambut dan jika ada tidak lebih
dari 20 cm
-
Kandungan hara N,P,K cukup dan tidak
kekurangan unsur mikro
-
pH 4,5-6,5
-
kemiringan tidak lebih dari 16%
(Setyamidjaja,
1993).
Dewasa ini pengembangan areal perkebunan karet, baik
rakyat maupun besar ditujukan pada jenis tanah podsolik merah kuning. Jenis
tanah ini terutama dijumpai di sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya.
Tanah ini memiliki sifat asam, berpasir mudah terjadi pencucian, liat dan
berombak. Tidak mudah tergenang, ditinjau dari kesuburannya tanah ini tergolong
sangat rendah hingga rendah. Hal ini disebabkan karena tanah ini tergolong asam
sehingga terjadi fiksasi hara fosfor (P) oleh unsure Aluminium (Al) dan Besi
(Fe) (Tim Penulis,
2011).
Dianjurkan
jangan menanam karet didaerah bekas hutan. Tanah bekas kebun karet dan bekas
ditumbuhi alang-alang akan lebih baik, asalkan penjalaran akar tidak terhalang.
Oleh karena itu bila diperoleh lapisan cadas atau saat penanaman , sebaiknya
lapisan itu disingkirkan atau dihancurkan, pengerjaanya dapat dilakukan secara
manual maupun dengan meggunakan alat berat hanya saja apabila menggunakan alat
berat membutuhkan biaya yang cukup besar tetapi hasil pekerjaannya lebih rapi.
Penanaman sebainya terdapat pada satu areal, jangan sampai terpencar. Panyatuan
areal ini dimaksudkan agar tanaman mudah dikontrol ( Sugito, 1999).
Media Tanam
Ada 4 fungsi media tanam yang harus mendukung
pertumbuhan tanaman yang baik yaitu sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang
air yang tersedia bagi tanama dapat melakukan pertukaran udara antar akar dari
atmosfir di atas media dan berakhir harus dapat menyokong tanaman asal tidak
kokoh ( Nelson,1981).
Ditempat penyemaian media yang
dipakai biasanya berupa tanah dan pasir. Biji diletakkan disebuah peti berisi
tanah halus yang diatasnya ditaburi pasir setebal 3-5 cm. Mula-mula tanah yang
digunakan dicangkul sedalam 15 cm. tanah dibersihkan dari gulma, batu-batuan,
sisa-sisa akar dan daun dan dihaluskan. Setelah bebas dari kotoran dan menjadi
halus, tanah diratakan dan dibuat bedangan. Bila cuaca panas, disiram dua kali
sehari dan bila tidak ada hujan atau musim kemarau panjang disiram lima kali
sehari. Alat penyiram dipilih yang berlubang halus, misalnya ember atau gembor
(Tim Penulis, 2011).
Media yang cocok untuk persemaian
benih karet ialah tanah yang cukup subur. Tanah dihaluskan menggunakan cangkul
dan bebas dari bekas-bekas akar dan kotoran lainnya. Tanah diratakan,
tanah-tanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik
terutama dari segi struktur, tekstur, aerasi. Permukaan bedengan dilapisi pasir
halus yang telah diayak dan bersih dengan ketebalan 5-10 cm (Setyamidjaja,
1993).
Media tanam untuk pembibitan yang terpenting bahwa media tanam tersebut
memiliki sifat porous dan memiliki kesuburan tinggi. Tanah yang digunakan untuk
mengisi polibag adalah tanah dengan bebas dari akar-akaan, batu-batuan dan
benda lain. Tanah yang dianjurkan adalah mengandung cukup bahan organic
berpasir 20-30% dan berliat (Pramana, 2010).
Biji-biji yang
telah diseleksi berdasarkan kemurnian klon dan daya kecambah seperti telah
diuraikan, harus segera dikecambahkan. Ada dua tempat untuk pengecambahan
berdasarkan jumlah biji karetnya. Jika jumlah biji karetnya sedikit,
pengecambahan bisa menggunakan peti kayu dan jika biji karetnya banyak
pengecambahan dilakukan di atas lahan. Lahan yang akan digunakan sebagai tempat
untuk mengecambahkan benih harus benar-benar diperhatikan dan telah memenuhi
kriteria tertentu (Setiawan dan
Andoko, 2005).
Penggosokan Benih
Dormansi
benih dibedakan menjadi dua, yaitu dormansi primer dan dormansi sekunder.
Dormansi primer adalah sifat dormansi yang disebabkan karena sifat fisik dan
fisiologis benih. Kulit benih menjadi penghalang masuknya air dan atau gas ke
dalam benih dalam proses perkecambahan sehingga proses perkecambahan tidak
terjadi. Tipe dormansi ini dapat dipatahkan dengan member perlakuan terhadap
kulit benih agar menjadi permeable (mudah dilalui) air dan gas, seperti perlakuan
kulit dan perendaman dalam air panas (Wirawan dan Wahyuni, 2002).
Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan
fisik dari kulit biji, keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua
keadaan tersebut, sebagai contoh kulit biji yang impermeable terhadap air dan gas sering dijumpai pada
benih-benih dari family leguminosa (Sutopo, 1999).
Skarifikasi mencakup cara-cara
seperti mengikis atau menggoreskan kulit biji yang mengalami sumbat gabus
dimana semua permeable terhadap air atau gas (Lakitan, 2003).
Perlakuan mekanis umum digunakan
untuk memecahkan dormansi benih yang disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji
terhadap air atau gas resisten mekanis system perkecambahan yang terdapat pada
kulit biji, salahsatunya skarifikasi, mencakup cara-cara seperti mengikir atau
menggosok biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau,
perlakuan guncangan untuk benih-benih yang memiliki kulit keras. Dimasa
masaknya bertujuan untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga benih
permeable terhadap air atau gas (Sutopo, 1999).
Kelemahan akibat penggosokan benih adalah dapat merusak, embrio
dari benih tersebut jika terjadi kesalahan dalam penggosokkan benih harus
hati-hati agar merusak embrio benih (Mugnisjah, dkk. 1994).
Manfaat penggosokan benih adalah
untuk memecahkan dormansi pada benih agar dapat berkecambah dengan baik. Karena
benih memiliki kulit yang keras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk
mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengikis kulit benih (Sadjad,
1995).
Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada
kulit biji dilakukan dengan cara penusukan, pemecahan, pengikiran, atau
pembakaran dengan bantuan pisau, jarum, kertas gosok atau lainnya adalah cara
efektif untuk mengatasi dormansi fisik, karena setiap benih ditangani secara
manual, dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji. Pada
hakekatnya semua benih dibuat permeable dengan resiko kerusakan yang kecil asal
daerah radikel tidak rusak (Lakitan, 2003).
BAHAN
DAN METODE
Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilakukan setiap hari Senin dari bulan
April sampai Mei 2012 di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan, Program
Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan
dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah benih karet sebagai bahan percobaan, top soil digunakan
sebagai media tanam karet, pasir sebagai bahan campuran media tanam, label
sebagai penanda polibag, polibag sebagai wadah penanaman karet, air untuk
menyiram media tanam, kertas pasir digunakan untuk skarifikasi.
Alat-alat yang digunakan dalam
percobaan adalah cangkul untuk pencampuran media tanam, gembor untuk menyiram
tanaman, meteran atau penggaris untuk mengukur tinggi tanaman, ayakan untuk
mengayak pasir, buku data serta alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan.
Metode Percobaan
Percobaan ini menggunakan Rancangan
Acak Kelompok (RAK) factorial dengan 2 perlakuan yaitu:
Faktor I :
Penggosokan (P) dengan 2 taraf
P0 :
Benih tanpa digosok
P1 :
Benih digosok hingga nampak embrio
Faktor II : Media tanam (M) dengan 3 taraf
M0 :
Pasir
M1 :
Pasir + Top soil (1:2)
M2 :
Top soil
Maka
didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu:
P0M0 P1M0
P0M1 P1M1
P0M2 P1M2
Jumlah
ulangan :
3
Jumlah
benih perpolibag : 10
Jumlah
petak percobaan : 18
Jumlah
benih yang dibutuhkan : 180
benih
Bagan
Percobaan

Ulangan
I II III
|
|
|
|
|
|
||||||
|
|
|
||||||
|
|
|
||||||
|
|
|
||||||
|
|
|
PELAKSANAAN
PERCOBAAN
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah
pasir, top soil dan polibag. Kemudian topsoil, topsoil + pasir (2:1) dan pasir
dimasukkan ke dalam polibag ukuran 10 kg.
Penggosokan Benih
Penggosokan benih dilakukan untuk
mempercepat perkecambahan benih karet. Bagian
yang digosok adalah bagian bawah benih karet dengan embrio hingga mata tunasnya
kelihatan.
Penanaman
Penanaman dilakukan dalam polibag
setelah benih karet tersebut digosok, benih karet ditanam sedalam 1 cm dalam
polibag masing-masing polibag ditanami 5 benih karet.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari
sampai kapasitas lapang dan selanjutnya dikurangi bila keadaan tanah masih basah
dan lembab.
Pengamatan Parameter
·
Persentase Perkecambahan (%)
Persentase
perkecambahan dihitung dengan melihat kecambah yang tumbuh 1 HST sampai 6
HST dengan rumus:
![]() |
·
Laju Perkecambahan (Hari)
Laju
perkecambahan dihitung dengan mengalikan jumlah kecambah yang tumbuh dari 1 HST
sampai 6 HST dengan rumus:
Jumlah Benih Ditanam
·
Tinggi Tanaman
Tinggi
tanaman dapat dihitung setelah tanaman berumur 2 MST sampai 8 MST yang diukur
mulai dari pangkal batang hingga titik tumbuh percabangan pada batang tanaman
karet.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Lampiran
1. Data Persentase Perkecambahan Benih Karet (%)
Perlakuan
|
Ulangan
|
Total
|
Rataan
|
||
I
|
II
|
III
|
|||
P0M0
|
98
|
98
|
95
|
291
|
97
|
POM1
|
97
|
98
|
98
|
293
|
97,67
|
P0M2
|
97
|
99
|
96
|
292
|
97,33
|
P1M0
|
97
|
100
|
99
|
296
|
98,67
|
P1M1
|
100
|
99
|
100
|
299
|
99,67
|
P1M2
|
98
|
100
|
100
|
298
|
99,33
|
Total
|
587
|
594
|
588
|
1769
|
589,67
|
Rataan
|
97,83
|
99
|
98
|
294,83
|
98,28
|
Lampiran
2. Data Laju Perkecambahan Benih Karet (Hari)
Perlakuan
|
Ulangan
|
Total
|
Rataan
|
||
I
|
II
|
III
|
|||
P0M0
|
8
|
8,3
|
7
|
23,3
|
7,77
|
POM1
|
7
|
7
|
6
|
20
|
6,67
|
P0M2
|
6
|
6
|
7
|
19
|
6,33
|
P1M0
|
5
|
5,3
|
5
|
15,3
|
5,1
|
P1M1
|
3
|
3,3
|
3
|
9,3
|
3,1
|
P1M2
|
4
|
4
|
5
|
13
|
4,33
|
Total
|
33
|
33,9
|
33
|
99,9
|
33,3
|
Rataan
|
5,5
|
5,65
|
5,5
|
16,65
|
5,55
|
Lampiran
3. Data Tinggi Plumula Benih Karet 8 MST (cm)
Perlakuan
|
Ulangan
|
Total
|
Rataan
|
||
I
|
II
|
III
|
|||
P0M0
|
33,00
|
32,00
|
32,00
|
97,00
|
32,33
|
POM1
|
36,00
|
32,00
|
36,00
|
104,00
|
34,67
|
P0M2
|
36,00
|
33,00
|
33,00
|
102,00
|
34,00
|
P1M0
|
37,00
|
36,00
|
37,00
|
110,00
|
36,67
|
P1M1
|
39,00
|
38,00
|
39,00
|
116,00
|
38,67
|
P1M2
|
38,00
|
37,00
|
39,00
|
114,00
|
38,00
|
Total
|
219,00
|
208,00
|
216,00
|
634,00
|
214,33
|
Rataan
|
36,50
|
34,67
|
36,00
|
107,17
|
35,72
|
Pembahasan
Dari
hasil percobaan di dapati data persentase perkecambahan benih karet terendah pada
perlakuan P0M0 yaitu benih tanpa digosok yang ditanam
pada media pasir sebesar 97%. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan ini
benih karet tidak digosok sehingga cenderung lebih sulit untuk berkecambah.
Akibat adanya dormansi benih. Hal ini
sesuai dengan literatur Sadjad (1995) yang menyatakan bahwa manfaat
penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar dapat
berkecambah dengan baik. Karena benih memiliki kulit yang keras harus dilakukan
pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara
mengikis kulit benih.
Dari
hasil percobaan di dapatkan data persentase perkecamban benih karet tertinggi
adalah pada perlakuan P1M1 (benih digosok hingga nampak mata embrio dengan media tanam pasir + top
soil (1:2)) sebesar 99,67%.
Hal ini karena pada perlakuan ini benih karet digosok sehingga lebih mudah
untuk berkecambah, selain itu media tanam yang sesuai berupa tanah topsoil
serta pasir juga memberi pengaruh besar sehingga perkecambahan menjadi optimal.
Hal ini sesuai dengan literatur Setyamidjaja (1993) yang menyatakan bahwa Media yang cocok
untuk persemaian benih karet ialah tanah yang cukup subur dengan permukaan bedengan dilapisi pasir
halus yang telah diayak dan bersih dengan ketebalan 5-10 cm.
Dari
hasil percobaan, data laju perkecambahan benih karet terendah didapatkan pada
perlakuan P1M1 (benih digosok hingga nampak mata embrio dengan
media tanam pasir + top soil (1:2))
sebesar 3,1 hari, hal ini dapat terjadi karena pertumbuhan kecambah pada
perlakuan ini terjadi secara serentak sehingga menyebabkan laju perkecambahan
menjadi rendah, adapun hal ini dapat terjadi karena benih diberi perlakuan
mekanis yang dapat mematahkan dormansi benih. Hal ini sesuai dengan literatur
Sutopo (1999) yang menyatakan bahwa perlakuan mekanis umum
digunakan untuk memecahkan dormansi benih yang disebabkan oleh impermeabilitas
kulit biji terhadap air atau gas resisten mekanis sistem perkecambahan yang
terdapat pada kulit biji.
Dari hasil
percobaan, data laju perkecambahan benih karet tertinggi didapatkan pada
perlakuan P0M0 (benih tanpa digosok ditanam pada media pasir) sebesar 7,77 hari, hal ini dapat terjadi karena pada
perlakuan ini benih tidak diberi perlakuan mekanis sehingga mengalami dormansi
yang menyebabkan petumbuhan benih menjadi bertahap dan akhirnya menyebabkan
laju perkecambahannya tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan (2003) yang menyatakan bahwa perlakuan
mekanis (skarifikasi) pada kulit biji dilakukan untuk mengatasi dormansi fisik.
Dari hasil
percobaan didapatkan data tinggi plumula benih karet 8 MST tertinggi adalah
pada perlakuan P1M1 (benih digosok hingga nampak mata
embrio dengan media tanam pasir + top soil (1:2)) sebesar 38,67 cm. Hal ini dikarenakan pada perlakuan ini
media tanam yang digunakan adalah pasir ditambah dengan topsoil sehingga
menyebabkan tersedianya unsur hara yang cukup bagi tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Pramana (2010) yang menyatakan bahwa media tanam
untuk pembibitan yang terpenting bahwa
media tanam tersebut memiliki sifat porous dan memiliki kesuburan tinggi. Tanah
yang dianjurkan adalah mengandung cukup bahan organic berpasir 20-30% dan
berliat.
Dari hasil
percobaan didapatkan data tinggi plumula benih karet 8 MST terendah adalah pada
perlakuan P0M0 (benih tanpa digosok ditanam pada media pasir) sebesar 32,33 cm. Hal ini dikarenakan media
tanam yang digunakan pada perlakuan ini adalah pasir, sehingga unsur hara yang
dibutuhkan tanaman tidak tercukupi. Hal ini sesuai dengan literatur Pramana
(2010) yang menyatakan bahwa media tanam untuk pembibitan yang terpenting bahwa media tanam tersebut
memiliki sifat porous dan memiliki kesuburan tinggi, tanah yang dianjurkan adalah mengandung
cukup bahan organik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Penggosok
berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah kelapa karet. Hal ini dapat dilihat
pada persentase perkecambahan tertinggi
tertinggi pada perlakuan media tanam P1M1 sebesar 99,67 %, Laju perkecambahan tertinggi
pada perlakuan P0M0 sebesar 7,77 dan tinggi plumula tertinggi pada P1M1 sebesar
38,67.
2. Media
Tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah kelapa karet. Hal ini dapat
dilihat pada persentase perkecambahan
tertinggi tertinggi pada perlakuan media tanam P1M1 sebesar 99,67 %, Laju
perkecambahan tertinggi pada perlakuan P0M0 sebesar 7,77 dan tinggi plumula
tertinggi pada P1M1 sebesar 38,67.
3. Penggosokan
dan media tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah kelapa karet. Hal ini
dapat dilihat pada persentase
perkecambahan tertinggi tertinggi pada perlakuan media tanam P1M1 sebesar 99,67
%, Laju perkecambahan tertinggi pada perlakuan P0M0 sebesar 7,77 dan tinggi
plumula tertinggi pada P1M1 sebesar 38,67.
Saran
Dalam
melakukan praktikum sebaiknya tanaman disiram setiap hari agar dapat tumbuh
dengan optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, C. 2011. Manajemen dan Teknologi
Budidaya Karet. Balai Penelitian Karet. Medan.
Lakitan, B. 2003. Hortikultura Teori,
Budidaya dan Pasca Panen. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Mugnisjah,
W. Q., Asep, S., Suwarto dan Cecep, S. 1994. Panduan Praktikum dan Penelitian
Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Nelson, 1981 . Pengaruh Media Tanam dan Pemberian Mikoriza
Vesikula Arbuskula Terhadap Pertumbuhan Stump Mata Tidur Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg). Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bistream/.../chapterII.pdf. pada tanggal 10 Mei 2012.
Pramana, G. 2010. Manajemen Pembibitan
dan Penanaman Kelapa Sawit. Diakses melalui http://www.deptan.go.id pada tanggal 29
April 2012.
Sadjad, S. 1995. 14 Tanaman Perkebunan
Untuk Agroindustri. Balai Pustaka, Jakarta.
Setiawan, D.H. dan A, Andoko. 2005.
Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja, J. 1993. Budidaya
dan Pengelolaan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Sianturi, H.S.D. 2001. Budidaya
Tanaman Karet. USU Press, Medan.
Sopian,
2012. Produksi Tanaman Karet Pada Daerah Bercurah Hujan Tinggi. diakses dari http://www.deptan.go.id pada tanggal 02 Mei 2012.
Spillane, J.J. 1989. Komoditi
Karet. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Sugito,
J. 1999. Karet Strategi Pemasaran Budidaya dan Pengolahan. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Sutopo, B. 1999. Teknologi Benih.
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Syamsulbahri, B. 1996. Bercocok Tanam
Tanaman Perkebunan. UGM Press, Yogyakarta.
Wirawan,
B. dan S. Wahyuni, 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Penebar Swadaya,
Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar